Selamat Ulang Tahun my lovely city..... :)
Daddy JC berkati dalam segala aspek kota ini :)
Showing posts with label concern. Show all posts
Showing posts with label concern. Show all posts
Saturday, July 14, 2012
Saturday, June 23, 2012
CREDIT UNION BERKAH 'TUK INDONESIA
Saya tertarik buat nulis tulisan ini ketika saya mendengar statement seseorang di TV "...orang miskin harus membantu dirinya sendiri untuk dapat keluar dari masalahnya...". Statement ini juga sangat familiar ditelinga saya karena bukan kebetulan saya di percayakan Tuhan untuk bekerja di salah satu Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM-MP) yang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan di perkotaan. Statement ini maknanya sama dengan yang sering di ucapkan teman kerja saya saat membawakan materi di masyarakat "...siapa lagi yang dapat menolong orang miskin selain orang miskin itu sendiri dan yang peduli terhadap mereka...".
Setelah di-search ternyata statement ini dikatakan oleh seorang Walikota di Jerman yaitu Raiffeisen, yang prihatin dengan keadaan masyarakat miskin di kotanya. Keprihatinan sang walikota ternyata memotivasinya untuk menerapkan 'Credit Union' di daerahnya.
APA DAN BAGAIMANA CREDIT UNION ITU? ...
Dari tata bahasa Credit Union berasal dari Bahasa Latin, yaitu :
Credere artinya Saling Percaya
Unus artinya Komunitas/Kumpulan
Jadi, Credit Union artinya sekumpulan orang yang saling percaya.
Credit Union atau koperasi kredit (simpan pinjam) biasa di
singkat CU adalah sebuah lembaga keuangan yang bargerak di bidang simpan pinjam yang dimiliki dan
di kelola oleh anggotanya, dan bertujuan untuk mensejahterakan anggotanya sendiri.
Tetapi Credit Union di seluruh dunia melayani anggotanya
lebih dari sekedar sebuah layanan keuangan dan koperasi. Credit Union memberikan kesempatan kepada
anggotanya untuk memiliki institusi
keuangan sendiri dan membantu para anggotanya menciptakan peluang untuk
memulai usaha kecil-kecilan, membangun rumah bagi keluarganya, dan menyekolahkan anak-anak
mereka.
Di sejumlah negara, anggota mendapat info bisnis koperasi, menikmati simpan pinjam koperasi dan menjalankan
demokrasi dalam Credit Union.
Credit Union memiliki tiga (3) prinsip utama yaitu:
1) Swadaya (tabungan hanya diperoleh dari anggotanya);
2) Setia kawan (pinjaman hanya diberikan kepada anggota);
3) Pendidikan dan Penyadaran (membangun watak adalah yang
utama; hanya yang berwatak baik yang dapat diberi pinjaman).
Karena Credit Union memang bersifat demokratis. Selain
ada kerja sama keuangan di antara anggota, kedudukan semua anggota sama
(equal). Masing-masing anggota memiliki hak yang sama, memiliki hak suara untuk
memilih dan dipilih menjadi pengurus. Sebagai perantara keuangan, credit union membiayai
peminjaman portofolio mereka dengan memutar dan membagi simpanan anggota,
menciptakan berbagai peluang bagi keturunan para anggota.
Credit Union ada untuk melayani anggota dan komunitasnya.
Credit Union bukan institusi kerja sama yang berorientasi pada profit. Tetapi
credit union memanfaatkan seluruh akses untuk memberi pinjaman kepada para
anggota, menabung dengan biaya rendah atau menikmati produk-produk dan layanan – layanan
baru lainnya. Credit Uion terbuka untuk semua golongan, tarmasuk mereka yang
miskin. Credit Union itu aman. Dia tempat yang nyaman untuk mengakses layanan
keuangan dan koperasi simpan pinjam. Credit Union memberi fleksibilitas yang
lebih besar kepada anggotanya untuk memenuhi kebutuhan individu para
anggotanya.
Soal nama, di sejumlah negara, credit union dikenal dengan
nama atau sebutan yang berbeda, hanya untuk mewujudkan ekspresi yang lebih
bagus bagi prinsip dasar peleyanan credit union. Di Afghanistan misalnya,
credit union di sebut Islamic Investment and finance cooperatives (IIFCs).
Tujuannya untuk lebih disesuaikan dengan praktek-praktek peminjaman (koperasi
simpan pinjam) dalam ajaran Islam. Sedangkan di Afrika dikenal dengan sebutan
savings and credit cooperative (SACCOs) yang lebih menekankan tabungan tarlebih
dahulu sebelum kredit koperasi.
SEJARAH CREDIT UNION
Sejarah koperasi kredit dan simpan pinjam dimulai pada abad
ke-19. Ketika Jerman dilanda krisis ekonomi karena badai salju yang melandah
seluruh negeri. Para petani tak dapat bekerja karena banyak tanaman tak
menghasilkan. Penduduk pun kelaparan.
Situasi ini di manfaatkan oleh orang-orang berduit. Mereka
memberikan pinjaman kepada penduduk dengan bunga yang sangat tinggi. Sehingga
banyak orang terjerat hutang. Oleh karena tidak mampu membayar hutang, maka sisa
harta benda mereka pun disita oleh lintah darat.
Kemudian tidak lama berselang, terjadi Revolusi Industri. Pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia diambil alih oleh mesin - mesin. Banyak pekerja terkena PHK. Jerman dilanda masalah pengangguran secara besar-besaran.
Melihat kondisi ini walikota Flammersfield, Friedrich Wilhelm Raiffeisen merasa prihatin dan ingin menolong kaum miskin. Ia
mengundang orang-orang kaya untuk menggalang bantuan. Ia berhasil mengumpulkan
uang dan roti, kemudian dibagikan kepada kaum miskin.
Ternyata derma tak memecahkan masalah kemiskinan. Sebab kemiskinan adalah akibat dari cara berpikir yang keliru. Penggunaan uang tak sedikit penerima derma memboroskan uangnya agar dapat segera minta derma lagi. Akhirnya para dermawan tak lagi berminat membantu kaum miskin.
Raiffeisen tak putus asa. Ia mengambil cara lain untuk menjawab soal kemiskinan ini. Ia mengumpulkan roti dari pabrik-pabrik roti di Jerman untuk di bagi-bagikan kepada para buruh dan petani miskin. Namun usaha ini pun tak menyelesaikan masalah. Hari ini diberi roti, besok sudah habis, begitu seterusnya.
Berdasar pengalaman itu, Raiffeisen berkesimpulan: ”kesulitan si miskin hanya dapat di atasi oleh si miskin itu sendiri. Si miskin harus mengumpulkan uang secara bersama-sama dan kemudian meminjamkan kepada sesama mereka juga. Pinjaman harus di gunakan untuk tujuan yang produktif yang memberikan penghasilan. Jaminan pinjaman adalah watak si peminjam.”
Untuk mewujudkan impian tersebutlah Raiffeisen bersama kaum buruh dan petani miskin akhirnya membentuk koperasi simpan pinjam bernama Credit Unoin (CU) artinya, kumpulan orang-orang yang saling percaya. Credit Union yang di bangun oleh Raiffeisen, petani miskin dan buruh berkembang pesat di Jerman, bahkan kini menyebar ke seluruh dunia.
CREDIT UNION DI INDONESIA
Credit Union, pertama kali muncul di
Indonesia pada 1960-an yang mulai dikembangkan dari barat. Seorang
pastor Katolik asal Jerman bertugas di Indonesia dan membawa konsep
tersebut. Kemudian CU mulai diperkenalkan ke Kalimantan Barat pada 1975.
Pada tahun 1975 oleh gereja Katolik. diadakan pelatihan pembentukan CU sehingga lahir 40 kelompok. CU tertua di Kalbar ada di Kecamatan Parindu, Kabupaten Sangkau. CU pertama berdiri tahun 1976, yaitu CU Lantang Tipo di Sangkau Namun dalam perkembangannya, CU tersebut "menghilang". Pada sekitar tahun 1985, diadakan sosialisasi ulang yang diikuti oleh sejumlah anggota lembaga swadaya masyarakat, salah satunya dari Pancur Kasih. Gagasan pendirian CU kembali muncul sehingga terbentuklah CU Khatulistiwa Bhakti pada 12 Mei 1985 disusul CU Pancur Kasih pada 28 Mei 1987. Seiring dengan perjalanan waktu, CU-CU terus bermunculan hingga Desember tahun 2006, sehingga CU yang dinaungi Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah Kalimantan kini telah beranggota 48 CU primer. Dan kemudian berkembang di daerah lain seperti Surabaya dan Makasar.
Walaupun disatu sisi ada pandangan yang menyatakan bahwa ada kepentingan agama tertentu dibalik program ini di Indonesia, tetapi ini merupakan berkah yang diberikan Tuhan untuk Indonesia. Karena lewat penerapan program ini kita di ajar untuk bisa peduli dengan sesama kita dan membantu mereka seperti kita membantu diri kita sendiri.
Source :
http://indobersatu.blogspot.com/
http://mesinpercetakan.com/koperasi-model-credit-union-indonesia/Monday, February 27, 2012
Kenyamanan Moda Transportasi di Manado
Kamis pagi 230212,
saya bergegas harus segera ke kantor perjalanan yang biasanya ditempuh dengan
kendaraan roda dua, hari ini tidak seperti biasanya perjalanan harus di tempuh
dengan kendaraan umum. Di terminal saya mendapatkan bus Manado-Bitung yang sebenarnya
sudah full tapi katanya ada yang kosong eh nggak tahunya kursi yang kosong
yaitu tinggal kursi 'VIP'. Penggunaan kata 'VIP' di Manado tidak biasanya jika
di Hotel atau Ruangan Pertemuan 'VIP' berarti
suatu tempat yang fasilitasnya lebih dari ruangan lainnya maka
penggunaan kata 'VIP' di bus atau kendaraan umum di Manado menunjukkan pada
satu kursi di kendaraan umum yang berada diantara kursi yang sebenarnya dan
tidak memiliki sandaran.
Semua ketidak nyamanan moda transportasi ini pun dilengkapi dengan kemacetan yang juga sudah setiap hari ditemui oleh masyarakat Kota Manado. Pertumbuhan kendaraan bermotor di Manado yang bertambah 8600-an unit setiap bulannya, tidak diimbangi dengan pertambahan infrasturktur jalan yang ada membuat ruang kota Manado semakin terbeban dan sempit. (sindikasi.inilah.com) Inilah beberapa penyebab sering terjadinya kemacetan di Manado. Beberapa usulan pemecahan masalah kemacetan telah dikemukakan oleh pemerintah kota Manado. Pemerintah kota merencanakan pembangunan gedung parkir khusus di jalan Piere Tendean dan Boulevard, penggenjotan pembangunan jalan Boulevard Dua, dan penertiban penerbitan Izin Mendirikan Bangunan (IMB). (sindikasi.inilah.com)
Menurut saya solusi yang di paparkan pemerintah ini saja tidak cukup, pembenahan moda transportasi di Manado juga akan sangat berdampak baik pada kemacetan. Jujur saja saya lebih senang menggunakan transportasi umum jika transportasinya aman dan nyaman. Oleh karena itu dari pemikiran saya ini saya juga berpikir pasti orang Manado yang lain juga pasti suka menggunakan transportasi umum jika transportasinya aman dan nyaman. Oleh karena itu saya mengusulkan bagaimana agar moda transportasi umumnya yang dibenahi agar kemacetan kota Manado dapat teratasi.
Belajar dari ibukota Norwegia
Oslo, ibukota Norwegia, seperti kota-kota besar di negara maju lainnya terbilang bebas dari kemacetan lalu lintas. Hal itu tak lepas dari kebijakan transportasi publik yang cerdas, terintegrasi, dan visioner. Di Oslo, hampir setiap rumah tangga memiliki mobil pribadi, tetapi mereka jarang menggunakan mobil untuk mobilisasi mereka. Setiap hari mereka menggunakan transportasi publik yang disediakan oleh pemerintah. Mengapa?
Norwegia membangun transportasi publik yang aman, murah, nyaman, dan tepat waktu. Di sana ada empat jenis transportasi publik, yaitu bis, tram (kereta listrik dengan rel yang membelah aspal jalan), kereta api (subway), dan kapal laut. Semua jenis transportasi publik itu dikelola sepenuhnya oleh pemerintah. Pemerintah menyediakan satu tiket yang dapat digunakan untuk semua moda angkutan. Jadi kita dapat menumpang bis, trem, kereta api, dan kapal laut dengan satu tiket saja.
Di Oslo, tiket dapat kita beli dengan mudah di minimarket-minimarket terdekat dengan sangat murah. Jenis tiket itu ada beberapa macam, yaitu tiket sekali jalan, tiket harian, tiket mingguan, dan tiket bulanan. Ketika saya berada di Oslo, saya membeli tiket bulanan. Harga tiket bulanan itu setara dengan Rp.800 ribu saja. Ini harga yang sangat murah karena dengan tiket bulanan itu, saya dapat menumpang semua jenis transportasi publik sepuasnya selama sebulan itu. Di samping murah, transportasi publik di sana sangat nyaman dan tepat waktu. Kereta api (subway) yang biasa saya tumpangi selalu dalam keadaan bersih, tidak berdesak-desakan, dan tepat waktu, sehingga tak pernah mengganggu aktivitas saya sehari-hari.
Orang-orang di Norwegia lebih senang menggunakan alat transportasi publik daripada menggunakan mobil pribadi. Di samping transportasi publik yang murah, nyaman, dan tepat waktu, keengganan warga Oslo untuk menggunakan mobil pribadi disebabkan oleh adanya kebijakan tarif parkir yang sangat tinggi. Mahalnya tarif parkir untuk kendaraan di satu sisi dan murahnya harga tiket untuk transportasi publik di sisi lain telah membebaskan Kota Olso dari kemacetan yang sangat menyiksa
Berguru ke ibukota Norwegia, Oslo, transportasi publik hendaknya dikelola oleh pemerintah secara terpadu. Beberapa langkah kebijakan dapat dilakukan, Pertama, pemerintah perlu membangun desain besar kebijakan transportasi publik. Kedua, pemerintah harus menghitung kebutuhan infrastruktur bagi transportasi publik. Ketiga, pemerintah menyediakan semua moda angkutan yang dapat menjangkau kebutuhan warga kota. Keempat, transportasi publik harus murah, nyaman, dan tepat waktu. Kelima, adanya kebijakan satu tiket untuk semua moda angkutan. Keenam, pengenaan disinsentif kepada pengguna kendaraan pribadi dengan pengenaan tarif parkir yang sangat tinggi, sehingga warga kota tak memiliki pilihan lain, kecuali menggunakan transportasi publik yang murah, nyaman, dan tepat waktu. (rumahbetujuh.wordpress.com)
Situasi Terminal 'Tangkoko' Penghubung Kota Bitung dan Manado
Satu jam perjalanan harus saya tempuh tanpa sandaran
dan juga harus siap siaga jika bus tiba-tiba berhenti. Inilah Manado gerutu
dalam hati saya. Dalam perjalanan juga sempat seorang penumpang nyeletuk
"cuma doi donk utamakan bukang kenyamanan penumpang" (hanya uang yang
mereka utamakan bukan kenyamanan penumpang). Ini bukan pertama kalinya saya
mengalami ketidaknyamanan dalam transportasi bus di Manado. Saya juga pernah
diarahkan duduk di samping sopir ketika bus full. Saya kaget dan dalam hati
bertanya "apa nggak ganggu kosentrasi nih???" whateverlah inilah
Manado. Belum lagi kondisi mobil yang tidak meyakinkan dilihat udah banyak yang
tak terawat. Dilengkapi lagi dengan tindakan usil para kernet yang tarif
sebenarnya Rp. 7400 jika dibayar dengan uang Rp. 8000 yang Rp. 600-nya nggak
dikembalikan.
Papan Informasi Tarif Antar Kota
Semua ketidak nyamanan moda transportasi ini pun dilengkapi dengan kemacetan yang juga sudah setiap hari ditemui oleh masyarakat Kota Manado. Pertumbuhan kendaraan bermotor di Manado yang bertambah 8600-an unit setiap bulannya, tidak diimbangi dengan pertambahan infrasturktur jalan yang ada membuat ruang kota Manado semakin terbeban dan sempit. (sindikasi.inilah.com) Inilah beberapa penyebab sering terjadinya kemacetan di Manado. Beberapa usulan pemecahan masalah kemacetan telah dikemukakan oleh pemerintah kota Manado. Pemerintah kota merencanakan pembangunan gedung parkir khusus di jalan Piere Tendean dan Boulevard, penggenjotan pembangunan jalan Boulevard Dua, dan penertiban penerbitan Izin Mendirikan Bangunan (IMB). (sindikasi.inilah.com)
Source : manadotoday.com
Belajar dari ibukota Norwegia
Transportasi Bus di Oslo
Oslo, ibukota Norwegia, seperti kota-kota besar di negara maju lainnya terbilang bebas dari kemacetan lalu lintas. Hal itu tak lepas dari kebijakan transportasi publik yang cerdas, terintegrasi, dan visioner. Di Oslo, hampir setiap rumah tangga memiliki mobil pribadi, tetapi mereka jarang menggunakan mobil untuk mobilisasi mereka. Setiap hari mereka menggunakan transportasi publik yang disediakan oleh pemerintah. Mengapa?
Norwegia membangun transportasi publik yang aman, murah, nyaman, dan tepat waktu. Di sana ada empat jenis transportasi publik, yaitu bis, tram (kereta listrik dengan rel yang membelah aspal jalan), kereta api (subway), dan kapal laut. Semua jenis transportasi publik itu dikelola sepenuhnya oleh pemerintah. Pemerintah menyediakan satu tiket yang dapat digunakan untuk semua moda angkutan. Jadi kita dapat menumpang bis, trem, kereta api, dan kapal laut dengan satu tiket saja.
Di Oslo, tiket dapat kita beli dengan mudah di minimarket-minimarket terdekat dengan sangat murah. Jenis tiket itu ada beberapa macam, yaitu tiket sekali jalan, tiket harian, tiket mingguan, dan tiket bulanan. Ketika saya berada di Oslo, saya membeli tiket bulanan. Harga tiket bulanan itu setara dengan Rp.800 ribu saja. Ini harga yang sangat murah karena dengan tiket bulanan itu, saya dapat menumpang semua jenis transportasi publik sepuasnya selama sebulan itu. Di samping murah, transportasi publik di sana sangat nyaman dan tepat waktu. Kereta api (subway) yang biasa saya tumpangi selalu dalam keadaan bersih, tidak berdesak-desakan, dan tepat waktu, sehingga tak pernah mengganggu aktivitas saya sehari-hari.
Orang-orang di Norwegia lebih senang menggunakan alat transportasi publik daripada menggunakan mobil pribadi. Di samping transportasi publik yang murah, nyaman, dan tepat waktu, keengganan warga Oslo untuk menggunakan mobil pribadi disebabkan oleh adanya kebijakan tarif parkir yang sangat tinggi. Mahalnya tarif parkir untuk kendaraan di satu sisi dan murahnya harga tiket untuk transportasi publik di sisi lain telah membebaskan Kota Olso dari kemacetan yang sangat menyiksa
Berguru ke ibukota Norwegia, Oslo, transportasi publik hendaknya dikelola oleh pemerintah secara terpadu. Beberapa langkah kebijakan dapat dilakukan, Pertama, pemerintah perlu membangun desain besar kebijakan transportasi publik. Kedua, pemerintah harus menghitung kebutuhan infrastruktur bagi transportasi publik. Ketiga, pemerintah menyediakan semua moda angkutan yang dapat menjangkau kebutuhan warga kota. Keempat, transportasi publik harus murah, nyaman, dan tepat waktu. Kelima, adanya kebijakan satu tiket untuk semua moda angkutan. Keenam, pengenaan disinsentif kepada pengguna kendaraan pribadi dengan pengenaan tarif parkir yang sangat tinggi, sehingga warga kota tak memiliki pilihan lain, kecuali menggunakan transportasi publik yang murah, nyaman, dan tepat waktu. (rumahbetujuh.wordpress.com)
Belajar dari
Norwegia sudah saatnya Kota Manado berbenah dengan kesemerawutan yang ada
ini. Kenyamanan tempat hunian, kebersihan
lingkungan kota, keamanan kota serta ketertiban masyarakat dalam membuang
sampah memang harus tetap diperhatikan tanpa mengabaikan juga kenyamanan moda transportasi
yang ada. Kenyamanan moda transportasi di Manado merupakan salah satu syarat
ketertarikan masyarakat nasional dan internasional datang di Manado. Hal-hal inilah yang harus di ubah agar
harapan Kota Manado kedepan untuk menjadi kota pariwisata dunia dapat tercapai.
Saya cinta Manado dengan segala yang ada didalamnya, oleh karena itu tulisan
ini dibuat untuk membangun kita semua :)
Wednesday, February 01, 2012
Konsep Pembangunan Waterfront Development
Konsep ini berawal dari pemikiran seorang ‘urban visioner’ Amerika yaitu James Rouse di tahun 1970an. Saat itu, kota-kota bandar di Amerika mengalami proses pengkumuhan yang mengkhawatirkan. Kota Baltimore merupakan salah satunya. Karena itu penerapan visi James Rouse yang didukung oleh pemerintah setempat akhirnya mampu memulihkan kota dan memulihkan Baltimore dari resesi ekonomi yang dihadapinya. Dari kota inilah konsep pembangunan kota pantai/pesisir dilahirkan.
Waterfront Development
adalah konsep pengembangan daerah tepian air baik itu tepi pantai, sungai
ataupun danau. Pengertian “waterfront” dalam
Bahasa Indonesia secara harafiah adalah daerah tepi laut, bagian kota yang
berbatasan dengan air, daerah pelabuhan (Echols, 2003). Waterfront Development juga dapat diartikan suatu proses
dari hasil pembangunan yang memiliki kontak visual dan fisik dengan air dan
bagian dari upaya pengembangan wilayah perkotaan yang secara fisik alamnya
berada dekat dengan air dimana bentuk pengembangan pembangunan wajah kota yang
terjadi berorientasi ke arah perairan. Menurut direktorat Jenderal
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dalam Pedoman Kota Pesisir (2006) mengemukakan
bahwa Kota Pesisir atau waterfront
city merupakan suatu kawasan yang
terletak berbatasan dengan air dan menghadap ke laut, sungai, danau dan
sejenisnya.
Pada awalnya waterfront tumbuh di wilayah yang memiliki tepian (laut, sungai, danau) yang potensial, antara lain: terdapat sumber air yang sangat dibutuhkan untuk minum, terletak di sekitar muara sungai yang memudahkan hubungan transportasi antara dunia luar dan kawasan pedalaman, memiliki kondisi geografis yang terlindung dari hantaman gelombang dan serangan musuh. Perkembangan selanjutnya mengarah ke wilayah daratan yang kemudian berkembang lebih cepat dibandingkan perkembangan waterfront.
Kondisi fisik lingkungan waterfront city secara topografi merupakan pertemuan antara darat dan air, daratan yang rendah dan landai, serta sering terjadi erosi dan sedimentasi yang bisa menyebabkan pendangkalan. Secara hidrologi merupakan daerah pasang surut, mempunyai air tanah tinggi, terdapat tekanan air sungai terhadap air tanah, serta merupakan daerah rawa sehingga run off air rendah. Secara geologi kawasan tersebut sebagian besar mempunyai struktur batuan lepas, tanah lembek, dan rawan terhadap gelombang air. Secara tata guna lahan kawasan tersebut mempunyai hubungan yang intensif antara air dan elemen perkotaan. Secara klimatologi kawasan tersebut mempunyai dinamika iklim, cuaca, angin dan suhu serta mempunyai kelembaban tinggi. Pergeseran fungsi badan perairan laut sebagai akibat kegiatan di sekitarnya menimbulkan beberapa permasalahan lingkungan, seperti pencemaran. Kondisi ekonomi, sosial dan budaya waterfront city memiliki keunggulan lokasi yang dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, penduduk mempunyai kegiatan sosio-ekonomi yang berorientasi ke air dan darat, terdapat peninggalan sejarah dan budaya, terdapat masyarakat yang secara tradisi terbiasa hidup (bahkan tidak dapat dipisahkan) di atas air. Terdapat pula budaya/tradisi pemanfaatan perairan sebagai transportasi utama, merupakan kawasan terbuka (akses langsung) sehingga rawan terhadap keamanan, penyelundupan, peyusupan (masalah pertahanan keamanan) dan sebagainya.
Prinsip perancangan waterfront city adalah dasar-dasar penataan kota atau kawasan yang memasukan berbagai aspek pertimbangan dan komponen penataan untuk mencapai suatu perancangan kota atau kawasan yang baik. Kawasan tepi air merupakan lahan atau area yang terletak berbatasan dengan air seperti kota yang menghadap ke laut, sungai, danau atau sejenisnya. Bila dihubungkan dengan pembangunan kota, kawasan tepi air adalah area yang dibatasi oleh air dari komunitasnya yang dalam pengembangannya mampu memasukkan nilai manusia, yaitu kebutuhan akan ruang publik dan nilai alami. Berikut alur pikir perumusan prinsip perancangan kawasan tepi air (waterfront city).
Bagan Alur Pikir Perumusan Prinsip Perancangan Kawasan Tepi Air
Sumber: Sastrawati, 2003
Aspek yang dipertimbangkan adalah kondisi yang ingin dicapai dalam penataan kawasan. Komponen penataan merupakan unsur yang diatur dalam prinsip perancangan sesuai dengan aspek yang dipetimbangkan. Variabel penataan adalah elemen penataan kawasan yang merupakan bagian dari tiap komponen dan variabel penataan kawasan dihasilkan dari kajian (normatif) kebijakan atau aturan dalam penataan kawasan tepi air baik didalam maupun luar negeri dan hasil pengamatan di kawasan studi (Sastrawati, 2003).
Jenis – Jenis Waterfront
Berdasarkan tipe
proyeknya, waterfront dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu :
- Konservasi adalah penataan waterfront kuno atau lama yang masih ada sampai saat ini dan menjaganya agar tetap dinikmati masyarakat.
- Pembangunan Kembali (redevelopment) adalah upaya menghidupkan kembali fungsi-fungsi waterfront lama yang sampai saat ini masih digunakan untuk kepentingan masyarakat dengan mengubah atau membangun kembali fasilitas-fasilitas yang ada.
- Pengembangan (development) adalah usaha menciptakan waterfront yang memenuhi kebutuhan kota saat ini dan masa depan dengan cara mereklamasi pantai.
1.
mixed-used
waterfront,
adalah waterfront yang merupakan kombinasi dari perumahan,
perkantoran, restoran, pasar, rumah sakit, dan/atau tempat-tempat kebudayaan.
2.
recreational
waterfront,
adalah semua kawasan waterfront yang menyediakan sarana-sarana
dan prasarana untuk kegiatan rekreasi, seperti taman, arena bermain, tempat
pemancingan, dan fasilitas untuk kapal pesiar.
3.
residential
waterfront,
adalah perumahan, apartemen, dan resort yang dibangun di pinggir perairan.
4.
working
waterfront, adalah
tempat-tempat penangkapan ikan komersial, reparasi kapal pesiar, industri
berat, dan fungsi-fungsi pelabuhan. (Breen, 1996).
Kriteria
- Kriteria Waterfront
Dalam menentukan suatu lokasi tersebut waterfront
atau tidak maka ada beberapa kriteria yang digunakan untuk menilai lokasi suatu
tempat apakah masuk dalam waterfront
atau tidak.
Berikut kriteria yang ditetapkan :
- Berlokasi dan berada di tepi suatu wilayah perairan yang besar (laut, danau, sungai, dan sebagainya).
- Biasanya merupakan area pelabuhan, perdagangan, permukiman, atau pariwisata.
- Memiliki fungsi-fungsi utama sebagai tempat rekreasi, permukiman, industri, atau pelabuhan.
- Dominan dengan pemandangan dan orientasi ke arah perairan.
- Pembangunannya dilakukan ke arah vertikal horisontal
Aspek- Aspek yang Menjadi Dasar Perancangan Konsep Waterfront Development
Pada
perancangan kawasan tepian air, ada dua aspek penting yang mendasari keputusan
- keputusan rancangan yang dihasilkan. Kedua aspek tersebut adalah faktor
geografis serta konteks perkotaan (Wren, 1983 dan Toree, 1989).
a. Faktor Geografis
Merupakan faktor yang menyangkut geografis kawasan dan akan menentukan jenis
serta pola penggunaannya. Termasuk di dalam hal ini adalah Kondisi perairan,
yaitu dari segi jenis (laut, sungai, dst), dimensi dan konfigurasi,
pasang-surut, serta kualaitas airnya.
- Kondisi lahan, yaitu ukuran, konfigurasi, daya dukung tanah, serta
kepemilikannya.
- Iklim, yaitu menyangkut jenis musim, temperatur, angin, serta curah
hujan.
b. Konteks perkotaan (Urban Context)
merupakan faktor-faktor yang nantinya akan memberikan ciri khas
tersendiri bagi kota yang bersangkutan serta menentukan hubungan antara kawasan
waterfront yang dikembangkan dengan
bagian kota yang terkait. Termasuk dalam aspek ini adalah:
- Pemakai, yaitu mereka yang tinggal, bekerja atau berwisata di kawasan waterfront, atau sekedar merasa "memiliki" kawasan tersebut sebagai sarana publik.
- Khasanah sejarah dan budaya, yaitu situs atau bangunan bersejarah yang perlu ditentukan arah pengembangannya (misalnya restorasi, renovasi atau penggunaan adaptif) serta bagian tradisi yang perlu dilestarikan.
- Pencapaian dan sirkulasi, yaitu akses dari dan menuju tapak serta pengaturan sirkulasi didalamnya.
- Karakter visual, yaitu hal-hal yang akan memberi ciri yang membedakan satu kawasan waterfront dengan lainnya.
Penerapan Waterfront Development di Indonesia
Penerapan waterfront development di Indonesia telah dimulai
pada zaman penjajahan Kolonial Belanda di tahun 1620. Pembangunan konsep waterfront di terapkan oleh para
penjajah yang menduduki Jakarta atau Batavia saat itu untuk membangun suatu
kota tiruan Belanda yang dijadikan sebagai tempat bertemunya dalam lalu lintas
perdagangan. Penataan Sungai Ciliwung
saat itu semata-mata hanya untuk kelancaran lalu lintas semata.
Pada zaman Indonesia merdeka, pembangunan yang berbasis kepada
paradigma kelautan sudah didengung-dengunkan sejak terbentuknya Departemen
Kelautan dan Perikanan di Tahun 1999 yang lalu. Pemicunya adalah kesadaran atas
besarnya potensi kelautan dan perikanan perairan Indonesia yang secara laten
terus menerus mengalami penjarahan oleh negara tetangga. Selain itu mulai
berkurangnya pemasukan negara dari sektor hasil hutan dan tambang juga mejadi
pemicu.
Fakta
menunjukkan, bahwa sekitar 60% dari populasi dunia berdiam di kawasan selebar
60 km dari pantai dan diperkirakan akan meningkat menjadi 75% pada tahun 2025,
dan 85% pada 2050. Ditjen Pesisir dan Pulau-pulau Kecil sendiri menyebutkan bahwa
sejumlah 166 kota di Indonesia berada ditepi air (Waterfront) [Adisasmita,
Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau – pulau Kecil, 2006. Pedoman Kota
Pesisir]
Banyaknya jumlah kota yang
berada di daerah pesisir dapat menimbulkan beberapa permasalahan pada kota itu,
jika tidak di tata dengan baik. Permasalahan yang dapat ditimbulkan yaitu
pencemaran, kesemerawutan lingkungan, dan sampah. Kekumuhan lingkungan tersebut
juga dapat menimbulkan masalah kriminalitas didaerah tersebut. Oleh karena itu,
pembangunan kota pesisir di Indonesia harus memecahkan permasalahan tersebut.
Penerapan Waterfront City di berbagai
kota di Indonesia diharapkan mampu untuk memecahkan permasalahan yang timbul
akibat tidak tertatanya kota-kota pesisir yang ada.
Beberapa kota di Indonesia
yang sudah menerapkan konsep pembangunan ini, yaitu :
Jakarta
Jakarta
Kawasan Ancol Mansion
Perencanaan dan pengembangan waterfront city di Jakarta yang mempunyai tujuan
utama merevitalisasi, memperbaiki kehidupan masyarakat pantai, termasuk
nelayannya. Pantai juga ditata kembali bagi kesejahteraan masyarakat, dengan
memberdayakan keunggulan ekonomis dari pantai tersebut, seperti pariwisata,
industri, pelabuhan, pantai untuk publik dan juga perumahan. Sebagai contoh
pembangunan hunian baru di kawasan Ancol yang juga berfungsi sebagai sarana
hiburan dan wisata.
Manado
Manado
Penggunaan konsep waterfront
city di Manado telah di terapkan pada area pesisir Pantai Boulevard Manado
sebagai kawasan Hiburan, Wisata, Ekonomi. Dan di daerah Sungai Tondano untuk
menata kembali pemukiman yang ada, menjaga kelestarian sungai serta mampu
meminimalisirkan pencemaran Sungai Tondano.
Makasar
Waterfront
city di Makasar berciri kota maritime yang kuat merupakan hasil
pengujian dilapangan berdasarkan keinginan masyarakat. Masyarkat tetap menginginkan positioning Makassar yang diterapkan dalam lima
visi kota sebagai kota maritime, jasa, niaga, pendidikan serta budaya.
Penerapan waterfront city dapat
dilihat pada penataan Pantai Losari.
Banjarmasin
Makasar
Banjarmasin
Penggunaan konsep waterfront
city di Kota Seribu Sungai yaitu Banjarmasin dilakukan dengan tujuan
menjaga kelestarian budaya masyarakat Pasar Terapung di Sungai Barito, menata
kembali pemukiman, yang menempatkan sungai sebagai halaman belakang.
Memaksimalkan potensi sungai sebagai jalur transportasi, juga sebagai objek
tujuan wisata.
Surabaya
Surabaya
Pembangunan Teluk Lamong di Surabaya juga menggunakan konsep Waterfront City. Rencana pengembangan pelabuhan Tanjung Perak yang ada diteluk tersebut juga untuk mengantisipasi terjadinya overload di Pelabuhan tersebut. Lamong Bay Port akan dibangun dengan menggunakan konsep pelabuhan modern yang mengacu pada pelabuhan-pelabuhan modern Jepang. Selain sebagai pelabuhan, Lamong Bay akan dikembangkan sebagai kawasan pergudangan, industri, dan pariwisata. Pembangunan Lamomg Bay sebagai upaya mengembalikan jati diri Surabaya Waterfront City sebagai kota maritim dan mampu bersaing dengan pelabuhan Singapore Port Authority atau Tanjung Lepas di Malaysia.
Palembang
Palembang
Perencanaan kawasan waterfront city di Kota Palembang sendiri bertujuan untuk
revitalisasi dan preservasi kawasan dan bangunan bersejarah dari peninggalan
kolonial serta bangunan kuno asli masyarakat, Central Business District sebagai urat nadi pertumbuhan kota,
Sungai Musi sebagai waterfront pengembangan wisata dan transportasi air.
Penerapan Waterfront Development di Berbagai Negara
Penerapan waterfront
development di kota-kota
negara maju dapat juga dijadikan referensi dalam perencanaan waterfront development bagi kota-kota di Indonesia. Di
negara maju perencanaan dan pengembangan waterfront development didasarkan pada berbagai
konsep sesuai dengan kondisi sosio-kultur, kemampuan teknologi dan ekonomi,
kebutuhan kotanya masing-masing serta memaksimalkan fungsi pembangunan yang
diterapkan sehingga pengembangannya dapat berfungsi secara ekonomis dan
efektif.
Pengembangan
fungsi kawasan yang dapat di terapkan pada konsep waterfront development, yaitu :
Sebagai Kawasan Bisnis
Sebagai Kawasan Bisnis
Di dalam “Waterfront
Development” dapat dikembangkan sebagai kawasan bisnis sebagai contoh di Canary
Wharf salah satu bagian kawasan “London Docklands”. Di daerah tersebut
terlihat di tepian air banyak gedung - gedung perkantoran serta kondominum.
Kawasan tersebut dapat menjadi pusat bisnis
Sebagai Kawasan Hunian
Sebagai Kawasan Hunian
Di dalam “Waterfront
Development” dapat diterapkan pengembangan kawasan hunian di tepi air.
Pengembangan hunian di tepi air tentunya harus melihat kondisi airnya tersebut
pastinya airnya tidak berbau dan kotor karena jika terbangun hunian di lokasi
tersebut dengan kondisi air yang buruk maka produk huniannya akan sulit terjual
ataupun terhuni. Dalam pengembangan hunian di tepi air dapat di bangun produk
rumah ataupun kondominium. Penerapan kawasan huian di tepi air dapat dilihat di
daerah Port Grimoud - Prancis. Di sepanjang aliran sungainya banyak terbangun
hunian bertingkat.
Sebagai Kawasan Komersial, Hiburan dan Wisata
Sebagai Kawasan Komersial, Hiburan dan Wisata
Di dalam “Waterfront
Development” dapat pula dikembangkan sebagai kawasan komersial, hiburan dan
wisata. Dengan kondisi air yang baik dan tidak berbau maka kawasan tersebut
terjamin akan banyak di singgahi pengunjung. Selain itu pula dapat juga
dibanguna area terbuka (plaza) di kawasan tersebut. Waterfront dengan konsep
sebagai kawasan komersial dan hiburan ini pastinya akan sangat digemarai oleh
masyarakat perkotaan. Sekaligus juga dapat meningkatkan pendapatan di daerah
tersebut.
Kota San Antonio di Texas berhasil
mengembangkan waterfront city modern yang dapat mempertahankan
bangunan bersejarah dan dapat menonjolkan nuansa kesenian dan budaya setempat.
Kawasan Waterfront city di pusat kota ini yang dapat
meningkatkan kondisi perekonomian di Texas.
Positano dan Amalfi di Italia, mengembangkan romantic
waterfront yang
mengkombinasikan pelabuhan, resort dan pusat perbelanjaan yang seimbang fungsi
dan skalanya.
Venesia mengembangkan perairan tidak hanya sebagai edge tetapi juga sebagai jalur
arteri sirkulasi kota, Vaporeti(bus air)sampai angkutan pencampur
beton, seluruhnya menggunakan jalur air.
Tepian Sungai Seina di Paris dikembangkan untuk menciptakan
fungsi, skala perubahan suasana yang dinamis melalui penataan kawasan
komersial, industri, residensial dan rekreasi.
Berdasarkan konsep waterfront city yang ditawarkan oleh masing-masing kota – kota di Indonesia dan beberapa contoh dari negara-negara maju tersebut menunjukkan bahwa terdapat pertimbangan-pertimbangan perencanaan kawasan waterfront city yaitu aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Aspek sosial meliputi usaha mencapai pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dan peningkatan kualitas hidup serta peningkatan kesejahteraan individu, keluarga, patembayan dan seluruh masyarakat diwilayah itu. Usaha ekonomi meliputi usaha mempertahankan dan memacu perkembangan dan pertumbuhan ekonomi yang memadai untuk mempertahankan kesinambungan (sustainable) dan perbaikan kondisi-kondisi ekonomi yang baik bagi kehidupan dan memungkinkan pertumbuhan kearah yang lebih baik. Wawasan lingkungan meliputi usaha pencegahan kerusakan dan pelestarian terhadap kesetimbangan lingkungan. Ketiga aspek ini harus mendapat perhatian yang sama sesuai dengan peran dan pengaruh masing-masing pada pengembangan kawasan waterfront city. Sehingga konsep ini benar-benar memberi dampak pada masyarakat di daerah pembangunannya.
Penerapan tiga aspek dalam waterfront development yaitu aspek sosial, ekonomi dan lingkungan jelas menunjukkan bahwa konsep ini adalah sebuah konsep yang menjunjung tinggi konsep Sustainable Development atau Pembangunan berkelanjutan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan generasi masa kini tanpa mengorbankan generasi masa depan dalam memenuhi kebutuhannya di masa mendatang. (1987, Bruntland Report). Karena itu konsep ini perlu dan sangat penting untuk diterapkan di kota-kota di Indonesia sebagai upaya untuk mengatasi permasalahan-permasalahan kependudukan dan lingkungan secara khusus Indonesia dan secara umum berdampak juga bagi kelestarian seluruh bumi ini.
PUSTAKA :
- Critical Review: Konsep Perencanaan Kawasan Pesisir “Waterfront City” di Kota-Kota Indonesia oleh Deny Ferdyansyah (http://onlyone-deny.blogspot.com)
- Isu Pengembangan Kota Pesisir oleh Deny Ferdyansyah (http://onlyone-deny.blogspot.com)
- Menata Kawasan Tepian Musi Sebagai Wajah Kota Palembang oleh Redaksi Butaru (http://bulletin.penataanruang.net)
- Mewujudkan Pembangunan Kota Pesisir di Indonesia yang Berkelanjutan Melalui Penyediaan Infrastruktur Berbasis Penataan Ruang oleh Ir. Joessair Lubis (http://bulletin.penataanruang.net)
- Waterfront City Banjarmasin, sebuah Upaya Inovatif Pengembalian Citra Kota oleh Raditya PU (http://bulletin.penataanruang.net)
- Visi Pembangunan Waterfront City Suatu Tinjauan Budaya oleh Ir. Martono Yuwono (http://bulletin.penataanruang.net)
- Mengenal Konsep Pengembangan Waterfront (http://propertybusinessacademy.com)
- Ekspedisi Sungai Ciliwung Laporan Jurnalistik Kompas, 2009
- http://adipatirahmat.wordpress.com/2010/01/06/jakarta-waterfront-city/
Thursday, April 21, 2011
Women, u are so special...
Wanita tidak diciptakan sebagai pribadi no.2.
Wanita bukan diciptakan dari kaki supaya diinjak-injak pria, bukan juga diciptakan dari tangan supaya dipukul pria ataupun dari kepala utk memimpin sebuah hubungan.
Wanita diciptakan dari rusuk pria sebagai rekan/mitra pewaris dari kasih karunia Tuhan dengan Pria.
wanita adalah kunci kemaksimalan pria dalam menjalani kehidupannya yang maksimal bagi pengembangan Kerajaaan Kristus.
sebagaimana rusuk melindungi organ-organ mahapenting dalam tubuh manusia seperti jantung,paru-paru, dll, demikian jg wanita adalah penolong yang melindungi investasi Tuhan dalam Pria.
Selamat Hari Kartini.
You are so special, women!
thank you brother (Adriyan Waroka) for ur this message...
Subscribe to:
Posts (Atom)



































